|
|
Aug 21, 2006
Lama Scooter, Philippe Starck
Metafora dan Simbolisme  Lama Scooter Philippe Starck 1992 material plastic recyclable Lama Scooter, Rancangan motor ini berangkat dari kebutuhan masyrakat urban , yang mempunyai mobilitas tinggi . Bentuk Lama Scooter sendiri dari metafora bentuk binatang lama yang berasal dari Afrika. Bersamaan dengan konsep " bersahabat dan dapat membawa muatan dalam volume besar , Lama sendiri dari negara asalnya adalah binatang peliharaan juga ternak , yang biasa digunakan sebagai alat transportasi (seperti unta di negara timur tengah). konsep produk bersahabat juga ditekankan pada material scooter yang sebagian besar terbuat dari plastic recycable Seperti dalam desain sebelumnya lagi-lagi Starck bermain dengan "function follow frorm" , dimana Starck ingin karyanya berbicara dengan simbol-simbol bentuk, misalnya pada lama scoter itu terdapat simbol mordern dan masa perancangan terlihat pada garis stream dan gaya minimalis, selain itu simbol dari bentuk Lama sendiri menegaskan konsep lama scooter sebagai produk yang bersahabat dan fungsional .
Posted at 08:01 am by silviarosi
Permalink
Jul 11, 2006
Scream (or The Cry) , Edvard Munch
Scream (or The Cry) Karya Edvard Munch 1893 -cardboard version ( 83.5 x 66 cm), Munch Museum, Oslo, Norway -oil, tempera, and pastel on cardboard ( 91 x 73.5 cm) , National Gallery, Oslo the stolen painting, comming up.....
Posted at 10:41 am by silviarosi
Permalink
Jun 1, 2006
 Pieta (1498-1499) karya Michelangelo Buonarroti Marble 174 x 195 cm (5 3/4 x 6 ft) Basilica of St Peter, Vatican Pieta dibuat atas permintaan Uskup Rafaello yang terkesan akan patung buatan Michelangelo sebelumnya (Bacchus), untuk dipersembahkan pada ruang gereja Perancis. Untuk mewujudkan figur Maria yang ada dalam hatinya, Michelangelo mula-mula setiap hari berdiri di pinggir jalan, membuat sketsa biarawati muda anggun yang lewat sebagai peraga, kemudian pergi ke Roma memilih model yang memenuhi syarat. Setelah itu, ia membuat patung Pieta dari tanah liat sesuai dengan sketsa, dan baru dipahat pada batu. Michelangelo berusaha keras untuk mewujudkan patung ini bahkan ia menciptakan topi lilin, untuk memudahkan kerja pada malam hari. Dengan usaha yang keras patung ini selesai dalam waktu dua tahun, tetapi Uskup Rafaello sudah meninggal dunia tanpa menyaksikan dulu patung tersohor di dunia ini. Pieta memantapkan kedudukan Michelangelo di bidang seni, karena pada saat itu seniman belum mencantumkan nama pada karyanya, maka banyak yang menyangka bahwa patung itu buatan pemahat lain. Sampai akhirnya Michelangelo yang mengetahui hal tersebut pada suatu malam menyelinap ke dalam gereja dan memahat namanya di sabuk Bunda Maria. Dari sinilah akhirnya pemahat mencantumkan nama mereka pada hasil karyanya, tetapi Michelangelo sendiri hanya satu kali melakukan pencantuman nama pada karyanya.  pencatuman nama Michelangelo di sabuk Maria Dalam Pieta Michelangelo berusaha mendekatkan subyek yang sebelumnya di Eropa Utara konsep penebusan selalu diperlihatkan dalam potret rasa sakit (luka, kesedihan) yang biasanya pada cerita malam terakhir sebelum Yesus meninggal, Maria yang duduk memanggul Yesus yang masih berusaha bangkit, di bahunya. Michelangelo yang pada saat itu baru berusia 23 tahun memperlihatkan gambaran yang berbeda, dimana Yesus sangat lemah dan pasrah dalam pangkuan Maria yang wajahnya terlihat muda, memandang dengan lembut tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa. Tubuh Yesus yang sudah meninggal dan ekspresi wajah yang sangat halus menampilkan penelitian akan otot, pembuluh, dan syaraf yang sangat sempurna. Michelangelo meyakini baik kualitas keimanan manusia dan fisik mempunyai peran penting dalam keindahan duniawi. Melalui Pieta ia ingin mengatakan manusia sebaiknya tidak menyikapi penebusan dengan kesedihan dan iba namun sebagai keindahan akan konsekuensi suatu pengorbanan.
Posted at 08:47 am by silviarosi
Permalink
May 31, 2006
Mona Lisa , Leonardo da Vinci
Mona Lisa Karya Leonardo da Vinci 1503-1506 cat minyak 77 x 53 cm Musee du Louvre, Paris Putus asa dengan lukisan fresko (dinding) Perang Anghiari yang rusak dalam proses pembakarannya, da Vinci kembali ke Florence(suatu pusat seni di Itali), dan melukis seorang figur wanita bernama Lisa berusia 24 tahun. Kegiatannya melukis Lisa cukup menyita perhatian da Vinci sehingga kekesalannya pada karya sebelumnya dapat terlupakan. Lisa yang menikah dengan tokoh terhormat Florence, menggambarkan figur wanita Florence pada umumnya, dalam posenya ia mengenakan gaun ala Florentine. Da Vinci selalu mendalami setiap obyek yang dilukis, pada proses pembuatan lukisan ini da Vinci mengetahui bahwa putri kecil Lisa baru saja meninggal, maka untuk menghiburnya terkadang da Vinci yang mempunyai berbagai bakat seni memainkan sebuah alat musik berupa harpa kecil untuk menghibur Lisa. Lisa yang pada masa itu dengan pesona ekspresinya yang melamun jauh dan senyumnya yang menghipnotis seakan membuat teka-teki. Beberapa orang melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada wajah Lisa, ada yang mengatakan karena lukisan itu belum selesai, bahkan yang mengatakan bahwa Lisa adalah da Vinci sendiri. Kejanggalan pada lukisan ini sebenarnya berada pada alis mata Lisa yang dicukur habis, pencukuran alis mata ini adalah sebuah trend pada masa itu , seperti wanita barat yang biasanya mencukur bulu kaki. Lukisan asli Mona Lisa lebih besar dari yang sekarang, karena dua kolom kanan dan kiri telah dipotong, karena itu tidak mudah mengenali kalau Mona Lisa bersandar pada kursi. Selain itu detail lukisan sudah tidak terlihat, karena sebagian rusak dan ada yang di lukis ulang.Bagaimanapun kharakteristik lukisan ini masih terlihat pada detail latar belakang yang berkabut (sfumato). Latar belakang lukisan Monalisa adalah sebuah danau, sedangkan lukisan Lisa sendiri dibuat terlebih dahulu di dalam studio. Lukisan ini sebenarnya pesanan dari suami Lisa, namun sampai da Vinci meninggalkan Florence lukisan ini tetap tidak dijual kepada pemesannya. Beberapa orang meyakini lukisan ini tidak diserahkan karena belum selesai yang lainnya mengatakan karena da Vinci terlalu mencintai lukisan ini. Sampai sekarang lukisan ini sudah berpindah tangan beberapa kali, menjadi koleksi raja, penghias kamar Napoleon, bahkan pernah dicuri oleh pencuri Itali.
Posted at 12:46 pm by silviarosi
Permalink
The Postman Roulin,Vincent van Gogh
The Postman Roulin Karya Vincent van Gogh Arles, Agustus 1888 cat minyak pada kanvas 78x62.5cm Museum of Fine Arts, Boston
Lelaki
pada lukisan ini adalah teman baik van Gogh ia menyebutnya 'seorang
pria yang lebih menarik daripada kebanyakan lainnya'. Van Gogh tertarik
untuk melukis seragam biru sengan hiasan garis emas, dan juga pada
pemberian karakter untuk diperhatikan pada wajah besar yang
berjanggutsangat mirip Socrates. Ia menangkap kesan ketulusan hati yang
aneh dari seseorang, yang canggung dalam berpose, dan kekakuan dari
fisiknya sengaja diperlihatkan. Di atas itu semua, ekspresi yang
ditampilkan sangat tak dibuat-buat, dan tangan dengan urat-uratnya
berkenjal-kenjal walau terlihat santai tidak dapat menyembunyikan
panjangnya pekerjaan kasar yang telah mereka lakukan. Ia memberikan
sebuah potret yang tidak sentimental dari orang sederhana yang dia rasa sangat menyenangkan.
Posted at 12:24 pm by silviarosi
Permalink
May 27, 2006
David Karya Michelangelo Bounarroti 1504 Marmer, tinggi 434 cm Galleria dell'Accademia, Florence Pada
tahun 1501 Michelangelo dikontrak untuk membuat patung David sebagai
dekorasi gereja Katedral di Florence. Dalam patung ini Michelangelo
mendobrak cara lama merepresentasikan Daud (David). Dia tidak
menampilkan Daud sebagai pemenang dengan kepala raksasa di kakinya dan
pedang di tangannya, namun sebagai potret pemuda dalam posisi sebelum
bertanding, moment ketika pendukung Daud merasa ragu akan dirinya dan
Goliath mencemoohnya. Sehingga rasa kekuatan moral dan energi tidak
hanya dapat disampaikan melalui tampilan anatomi tetapi juga dapat
melalui inti pandangan dan perenungan dari cerita kepahlawanan dalam
kitab. Setelah patung David terselesaikan, komite dewan penduduk memutuskan patung itu harus ditempatkan ditengah kota , di depan Palazzo Vecchio, aula kota. Itu pertama kalinya patung
telanjang dipajang di tempat publik. Peristiwa ini dapat terjadi karena
apresiasi dua kubu yaitu komunitas politik yang melihat David sebagai
simbol dari idealisme politik tertinggi
dan di lain pihak bagi rakyat biasa bermakna kekuatan dan kegusaran
yang merupakan kharakteristik utama pelindung kota Yunani yang legendaris, Hercules.
Posted at 03:21 pm by silviarosi
Permalink
|
|
|